Tampilkan postingan dengan label Ulasan Film. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulasan Film. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 28 Juli 2012

S.A.R.U.: Seks. Adalah. Rahasia. Umum.

Movie Review
SHAME (2011)

“Pertarungan Batin antara Manisnya Kenikmatan Dosa dan Rasa Bersalah yang Menghantui”



B
ukan barang baru. Seks mungkin tema yang tak pernah ada habisnya untuk dibahas dari waktu ke waktu. Tapi saya dan anda juga sama-sama tau bahwa seks pula tema yang ditabukan, dianggap sesuatu yang sepatutnya dikemas dalam label merah menyala bertuliskan “SARU” (baca: shame). Mungkin untuk alasan yang terakhir itu pulalah akhirnya para juri terpilih Oscar (AMPAS, red.) kemarin mendiskualifikasi film yang notabene menjadi salah satu rilisan terkuat taun lalu dari ajang penominasian. Dasar pertimbangan yang cukup masuk akal sebetulnya: Oscar bukan ajang penghargaan film porno. It’s universal. It’s for everybody. People from all over the world watch it. Bayangkan kerasnya teguran surat protes yang bakal mereka terima seandainya dengan monggo kerso mengijinkan film sevulgar ini muncul di daftar kandidat dan dipertontonkan ke hadapan publik dari kawasan benua berhaluan konservatif dan agamis yang kian khawatir akan ekspansi budaya sekuler yang makin menjadikan budaya lokal dan kaidah agama menjadi kaum terpinggirkan, tak ayal predikat “mesum” atau “amoralis” pun akan berpotensi menghancurkan reputasi “bersih” Oscar yang telah susah payah dibangun selama 84 taun.

Didera kontroversi, Shame menanggung beban berat ketika diluncurkan dengan license tag kuning bertanda seru dari MPAA: NC-17 (No One 17 and Under Admitted). Lebih buruk dari “sekedar” disegel dengan label “R” (Restricted). Itu bukti bahwa film ini sangat jelas bukan konsumsi mereka yang belum dikategorikan sebagai “dewasa”. Sensual. Erotis. Liar. Cabul. Atau terserah apa sajalah hinaan/pujian yang dapat orang lontarkan terhadap film ini – tapi Steve McQueen tidak peduli.  Dia dengan semangat idealisnya terus maju dan berjuang meloloskan karya pentingnya ini dengan cara apapun juga. Tanpa ambil pusing dengan keputusan ketat MPAA dan kekolotan Oscar, McQueen mempersembahkan kepada anda sebuah film yang akan membuat jantung berdenyut kencang, nafas terengah-engah, tapi yang paling buruk: emosi teraduk-aduk tak karuan.

Apa yang lebih buruk dari menjadi seorang sex addict? Sepertinya tidak ada. Michael Fassbender yang memiliki ketampanan khas British gentleman itu[1] (dia terliat jauh lebih tua dari umurnya yang sebenarnya) memastikan bahwa terperangkap dalam lingkaran perbudakan seks yang tak terkendali adalah state of nature terburuk yang dapat terjadi pada manusia. Anda mungkin terliat baik-baik saja di luar, tapi di dalam anda tergerogoti oleh manisnya racun pengemulsi kesadaran untuk dapat memilih antara yang baik dan yang buruk. Sebagai Brandon Sullivan, Fassbender mengajak anda masuk ke dalam kisah yang mengetengahkan seks bukan sebagai sebuah cerita syur yang mengasyikkan, tetapi sebuah kekuatan mistis yang menyeret dan menenggelamkan ke dalam lautan kehampaan tak bertepi. Di titik ini, anda akan dapat menyimpulkan bahwa McQueen berhasil menyajikan ketelanjangan manusia bukan sebagai pornografi, melainkan sebentuk raga tanpa jiwa.

Tapi di sini Brandon tak sendiri, datanglah Sissy (Carey Mulligan) adik perempuannya yang manis tapi lancang, suka mencuri-curi tau dengan apa yang dikerjakannya – termasuk area-area yang terbilang sensitif dan pribadi. Pun tak ubahnya seperti Brandon, dia memiliki masalah dengan dirinya sendiri. Cukup satu momen erotika antara dia dan atasan abangnya sudah menjadi bukti kuat bahwa gadis itu juga kerap terlibat dalam “hubungan-hubungan” didasari atas desakan nafsu yang sama sekali tidak bisa dikatakan sebagai “hubungan-hubungan” yang dilandasi oleh cinta. Beralih dari pelukan satu cinta semalam ke cinta semalam lain telah menyebabkan jiwa gadis ini rusak. Di kota megapolitan sebesar New York, one night stand secara sosiologis barangkali telah menjadi kewajaran sebagai rupa-rupa “sosialisasi” bagi mereka usia 17 tahun ke atas yang dinyatakan aktif secara seksual di tengah kemajemukan individu yang secara kolektif kemudian membentuk komunitas/masyarakat yang dibangun di atas pondasi hubungan inter-personal yang diukur tidak hanya secara “kuantitas” tapi juga “kualitas”. Tapi melalui studi karakter terhadap Brandon dan Sissy yang dibeberkan di sini, komplikasi asmara sesaat tanpa ikatan itu agaknya – dalam jangka panjang – akan menimbulkan pengaruh psikologis buruk: memperkeruh batas kewenangan yang jelas antara “kesenangan” dan “kebahagiaan”. Kita tak bisa lagi membedakan apakah seks itu sebatas urusan “kesenangan” atau lebih dalam berorientasi pada “kebahagiaan”. Secara rasional anda mungkin mengerti perbedaan maknawiah antara keduanya, tapi tidak ketika hal tersebut dibuktikan secara empiris. Memang, ini adalah sebuah demokrasi, tidak semua orang harus sependapat dan ada begitu banyak pendekatan yang patut diujikan terlebih dahulu berkenaan dengan teori-teori seputar seks tapi secara lisan dan jujur: apa “standar seks yang baku” menurut anda? Mengakui seks sebagai “kewajiban alam” atau seks sebagai “pilihan sadar”? Definisikan ulang arti “kesenangan” dan “kebahagiaan” sebelum anda berani mencampuradukkannya dengan embel-embel semenggoda, sebombastis, semahal S-E-K-S.

Jangan salah sangka, retorika sinis ini tidaklah sesederhana itu – tidak dengan mudah dapat “dijawab” hanya dalam waktu sehari saja. Wanti-wanti saya ingatkan, selama proses perenungan panjang ini, mungkin anda akan merasakan kegersangan yang sama seperti penderitaan seksual yang digambarkan begitu dahsyat dalam film ini. Namun, syukurlah, ternyata anda dan saya tidak sendiri. Kesengsaraan ini juga telah menghajar sang pejantan kita sepanjang film bergulir. Melalui informasi yang disajiikan dalam bentuk potongan-potongan gambar cantik oleh McQueen – sebagai karakter yang mewakili bagaimana normalnya situasi seorang pria lajang dewasa yang keseharian wajarnya menumpuk konsumsi nutrisi dalam tubuh membentuk hormon yang terus berproduksi tanpa kendali kemudian menuntut pelepasan hingga pada akhirnya yang terjadi adalah kelaparan, kerakusan seksual dari seonggok utuh daging dan tulang fana yang hidup namun perlahan-lahan terenggut visi hakikinya sebagai representasi agung mahluk berdaya pikir akan makna dan harapan hidupnya – Brandon berupaya keras “menemukan kebahagiaan” (baca: ketersiksaan) lewat sebuah cara yang mungkin akan anda definisikan sebagai… saru (kesasar + keliru).

Tak pelak, film memang sebuah media universal yang mampu menghubungkan emosi dan pemahaman penonton dari belahan bumi manapun – tapi saran saya, luangkanlah waktu khusus dan tontonlah film ini sendiri, maka film ini akan terasa begitu personal, lambat-laun “mengganggu”, lantas menampar keras kesadaran kita akan rahasia tergelap manusia yang kerap disembunyikan, disangkal, ditutup-tutupi: seksualitas. Membedah fungsi kelamin sebagai organ reproduksi, McQueen secara efektif menggunakan Shame sebagai pisau bermata dua – tak hanya mengajukan pertanyaan getir bagaimana seks menjadi sebuah dorongan psikis yang secara sadar diingini tetapi juga kebutuhan biologis sebagaimana digariskan oleh hukum alam yang mau tak mau diikuti – begitu dalam menusuk, merasuk, kemudian menyeruak dan mengobrak-abrik emosi yang terperangkap dalam sebentuk “kegilaan” (baca: kegelisahan) sukma akan pelampiasan badani di hadapan sebuah suara kecil yang jujur namun sanggup meruntuhkan benteng keangkuhan jiwa yang disebut nurani. Namun, jangan harapkan pesan moral yang memvonis blak-blakan di sini. Tidak. Tidak ada pembicaraan tentang salah atau benar. Dosa atau suci. Sama sekali tidak ada. Persepsi kolot one-dimensional yang mentah-mentah menghakimi semacam itu dengan tegas dihindari McQueen. Tapi apakah film ini lantas “bablas” tanpa rem? Jelas tidak. Shame jelas-jelas film yang kejam – gambaran yang nyaris mendekati fakta tentang ketidaknyamanan yang dirasakan ketika seks berubah fungsi dari perayaan libido yang indah menjadi teror kecanduan akut: porsi seks yang korup memukul pertahanan batin, merontokkan akal sehat, menciptakan horor rasa bersalah berkepanjangan. Terombang-ambing oleh kemarahan dan keputusasaan – dihantui petualangan seks yang liar, masturbasi, sex live-streaming, sekardus besar koleksi pernak-pernik porno –Brandon pada klimaksnya “meledak” dengan rasa muak yang teramat sangat pada diri sendiri. Lalu, tidakkah dengan begini, akhirnya McQueen berhasil mengubah persepsi kita bahwa seks tenyata bisa berubah menjadi sebuah hukuman kejiwaan yang menakutkan?

Michael Fassbender, aktor “pendatang baru” yang namanya mulai ramai dibicarakan setelah “debut” mengesankannya dalam 300 (2006), Inglorious Basterds (2009), dan terutama Hunger (2008). Sepanjang taun 2011 kemarin, Fassbender menjadi salah satu wajah yang paling sering muncul dengan tak kurang dari 5 judul film rilis turut melibatkan namanya: Jane Eyre, X-Men: First Class, A Dangerous Method, Haywire, dan tentu saja Shame. Penuh penghayatan menghidupkan karakter Brandon yang mampu membangkitkan mimpi buruk penonton akan betapa dekatnya keseharian kita dengan seks yang berada di perbatasan antara kebutuhan dan obsesi – seharusnya Fassbender tak sekedar meraih pujian dari berbagai kritikus Inggris dan Eropa, tapi patut menembus nominasi “Best Actor” pertamanya pada penghargaan Oscar kemarin tapi apa yang terjadi? Bertandang ke Negeri Obama, meski di depan pintu anda disambut hangat, namun itu sama sekali tidak menjamin bahwa anda telah sukses menaklukkan hati sang tuan rumah. Hanya gara-gara “nila setitik”, Academy Awards bisa menunjukkan pada anda sikap aristokratis yang dingin dan acuh. Lagi-lagi AMPAS memainkan peran orangtua “pilih kasih” sehingga menyebabkan anak seberbakat Fassbender lantas menjadi “tumbal” keangkuhan mereka. Barangkali mereka pikir ini belum saatnya bagi Fassbender tapi semoga saja nasib aktor muda tersebut di kemudian hari tidak senaas Gary Oldman yang ironisnya baru menerima nominasi Oscar perdananya kemarin setelah berkarya di dunia perfilman lebih dari dua dekade silam. (Bagaimanapun) kudos bagi Fassbender yang ke depan tampaknya akan menjadi ancaman serius bagi Christian Bale setelah sukses bermetamorfosis dari pria ceking dalam Hunger menyaingi tubuh kurus kering Bale dalam The Machinist (2004) lalu kini dalam Shame menjelma menjadi predator seks merivalri keberanian Bale berbugil ria dalam American Psycho (2000). Carey Mulligan pun ternyata tak sepolos senyum manisnya. Menyusul “saudari Bennett”-nya dari Pride and Prejudice (2005), Keira Knightley, dia berani menjawab tantangan untuk melepaskan imej “gadis baik-baik” yang selama ini membebaninya. Meski porsi penampilannya tak “semelelahkan” Fassbender, tapi sebagai  pemain pendukung, Mullligan menyuguhkan performa menawan melalui karakter Sissy yang retak, gamang, kehilangan pemaknaan apresiatif atas diri sendiri, dengan masa bodoh melanggar etika atas batasan status profesional antara kolega dan abangnya yang justru semakin memperterang jejak abu-abu hubungan antara “kakak-beradik” ini – sesingkat momen-momen “kaku” dan dialog “ngawur” yang tertangkap di antara keduanya – perlahan menyingkap “sesuatu” yang tidak dibahas lebih lanjut oleh McQueen: misteri masa lalu yang samar-samar mengarahkan penonton untuk menyimpulkan adanya dugaan (semengerikan) incest.

Sebuah keberanian besar yang patut dipuji ketika sutradara asal Inggris yang terbilang pemain baru namun memiliki bakat luar biasa, Steve McQueen (bukan aktor legendaris Hollywood itu) berangkat dari gerakan perjuangan kolektif dalam Hunger kemudian lebih intim mempersempitnya menjadi gejolak pergumulan individu dalam Shame. Dalam men-shoot gambar, McQueen juga menyukai detail untuk menegaskan kekuatan “naratif” film yang tidak melulu harus didominasi dialog berpanjang-panjang. Melalui kekuatan obyek yang “berbicara” seperti dinding kaca, lorong apartemen yang lengang, sudut ruangan minimalis, seprai kusut, sejumlah orang berkumpul di satu sudut bar, lalu angle focus pada bagian tubuh tertentu – memaksimalkan long shot, short shot, dan close-up secara proporsional – dia merangkai jalinan deskripsi yang kuat bagi film-filmnya.  Pertengahan menit ke-38, mulusnya long-take Brandon lari-lari menyusuri trotoar dengan latar pemandangan etalase pertokoan, gedung-gedung perkantoran, dan jalanan malam New York selama hampir empat menit yang digunakan pula pada promotional trailer-nya benar-benar suguhan skill berkelas yang menunjukkan betapa seriusnya McQueen memamerkan kebolehannya dalam berolah kamera. Dibalut kemampuan menata tempo cerita yang tidak tergesa-gesa tapi juga tidak berlambat-lambat, dengan tampilan visual jernih yang sungguh nyaman di mata berkat fotografi mewah yang tajam, Shame mengangkat subject matter yang kusut dan suram tanpa terliat semuram, semenjijikkan, sejahat Irreversible (2002) Gaspar ­Noe yang gelap berputar-putar hingga menimbulkan efek vertigo memualkan. Namun jangan teralihkan oleh prasangka anda sendiri, Shame berbeda dari The Reader (2008) meski sama-sama merujuk pada kisah kebejatan moral manusia – sementara The Reader menjadikan seks sebagai potongan kecil cinderamata untuk membongkar kembali sebuah kuburan kenangan hidup yang pelik, Shame tanpa sungkan-sungkan mengeksploitasi (peragaan) seks sebagai hidangan utama ketimbang jualan lika-liku, sedu-sedan drama. Adegan-adegan koitus yang frontal dan keberanian Fassbender maupun Mulligan tampil tanpa busana memang cukup mengejutkan tapi menurut hemat McQueen, agaknya itu “diperlukan” demi kepentingan naturalitas cerita dan tercapainya target emotional strike. Ditinjau dari segi bobot, intensitas, dan signifikansi, Shame mungkin tidak sebaik pendahulunya Hunger tapi secara full-frame, ini tetaplah karya yang memiliki kualitas yang tak bisa diremehkan: sebuah visualisasi filosofi paradoks yang mengkonfrontasi fungsi hormonal dalam manifestasi tubuh yang terjepit antara dorongan naluri manusiawi dan kungkungan evaluasi jati diri yang mengedepankan kepantasan sekaligus membungkam kehendak alam terbungkus dalam sebuah mantra ajaib terdiri dari tiga huruf yang akan membuat kepala anda menoleh seketika mendengarnya: S.E.X.

-          F. Fajaryanto Suhardi

(8 Juni 2012)


[1] In fact, Fassbender adalah aktor kelahiran Jerman tapi besar di Irlandia.

Mengenang Audrey Hepburn Si Mahluk Maha Indah yang Dianugerahi Kecantikan Angelik nan Elegan



Classic Movie Review

Funny Face (1957)

“Si Wajah Nirmala: Ketika Hepburn yang Manis dan Segala Pesonanya Unggul di atas Konflik Ketakselarasan dengan Sang Senior Astaire dan Segala Karismanya”



S
iapa raja perfilman musikal klasik Hollywood? Ada yang bilang Gene Kelly, sebagian lain menyebut Fred Astaire. Ketika Gene Kelly identik dengan koreografi yang luwes dan beraksi dalam film-film musikal dinamis yang lebih bersifat artsy, maka citra Fred Astaire yang sangat lekat dengan tap dance yang menuntut ritme cepat, hentakan kaki kompak dan serentak yang terliat cukup melelahkan itu lebih berasosiasi dengan tema-tema seputar kehidupan sosialita high-end Barat yang hari-harinya diisi dengan dansa-dansi dikawal orkestra big band jazz mewah. Mungkin fakta ini kemudian memunculkan ide untuk melihat salah satu aktor tersebut mencoba gaya rivalnya atau setidaknya bermain di genre spesialisasi lawannya. Singkat cerita, film ini bisa dikatakan sebagai karya tantangan yang berusaha menghadirkan kombinasi gaya kedua aktor dansa legendaris tersebut. Dengan memasang Astaire sebagai aktor utama, film ini mencoba mengambil elemen dari An American in Paris (1951) yang enam taun sebelumnya sukses mempopulerkan nama Gene Kelly.

Tak perlu menduga-duga, serumpun dengan film-film legendarisnya semisal Top Hat (1935), Swing Time (1936), The Gay Divorcee (1934), dan Flying Down to Rio (1933); mengusung komposisi Gershwin Bersaudara, Astaire kembali hadir sebagai leading man dalam romantika klasik dengan background gaun-gaun superb nan glamor berbentuk drama yang separuh durasinya dihabiskan untuk nyanyi-nyanyi walau tidak sampai seeksesif mayoritas film Bollywood. Bedanya, kali ini dia tampil tanpa partner dansa abadinya, Ginger Rogers. Saya tidak akan berbasa-basi menceritakan plot ceritanya karena bukan itu letak kekuatan film ini. Ini tak lebih dari sebuah tribute yang menyandingkan Audrey Hepburn (sebagai pengganti Rogers) – bintang fresh yang saat itu tengah naik daun setelah berhasil menyabet Oscar ‘Aktris Terbaik’ lewat Roman Holiday (1953) – dengan aktor yang telah kenyang pengalaman di film sejenisnya, siapa lagi kalau bukan Fred Astaire. Ibarat kue bolu, plot dalam film ini hanyalah berfungsi sekedar sebagai bungkus kemasan demi menjaga citra etis yang bernilai penting tak penting – pun plot pada akhirnya menunjukkan “fungsi riil”-nya sebagai pagar cerita agar tetap running on the track demi tujuan penalaran yang katakanlah akan timbul anggapan fun, silly tapi bagaimanapun penonton akan berhasil “terkelabui” hingga akhirnya setuju kalau (film ini) quite logical. Sayangnya, meskipun telah sedemikian rupa “disetel” dan “dipermak”, dalam film ini, Astaire dan Hepburn bukanlah Romeo dan Juliet, maksud saya, love chemistry yang terbangun antara Astaire-Hepburn terkesan ganjil dan cukup ridiculous: patronizing dan kental nuansa platonis. Sangat mungkin dipengaruhi oleh perbedaan usia yang sangat jauh antara Astaire-Hepburn yang benar-benar lebih cocok menjadi bapak-anak itu. Pra Breakfast at Tiffany’s, Hepburn memang dikenal sebagai aktris yang selalu berpasangan dengan para aktor berusia jauh lebih tua darinya – Gregory Peck (Roman Holiday) lebih seperti pamannya; Gary Cooper (Love in the Afternoon (1957)) lebih cocok menjadi Pakde-nya; Cary Grant (Charade) terliat kayak bapak tirinya; Humphrey Bogart (Sabrina) benar-benar seperti bujang tua yang beruntung; William Holden (Sabrina, Paris When It Sizzles) lebih pantas dengan peran sebagai abang iparnya. Tapi selama karirnya, Astaire-lah sosok love interest Hepburn yang selisih umurnya terpaut paling jauh: 30 tahun!
Mari kita hentikan pembicaraan soal kesenjangan usia dan segera masuk ke main topic: DRAMA MUSIKAL – yang patut dibicarakan tentulah musik dan koreografi. Nah, ini dia isu yang bernilai relatif sekaligus sensitif. Jika anda penggemar berat musikal klasik Fred Astaire era 30an, Funny Face tentu akan terasa lumayan “mengecewakan”, tapi jika anda ternyata pengagum seorang Audrey Hepburn – terlebih bila anda tipe penonton yang menonton tanpa prejudis – maka ini bisa menjadi semacam angin segar. Astaire mungkin memperoleh first billing sebagai aktor utama namun di sini dia bukanlah magnet utama, melainkan si cantik Audrey Hepburn. Lebih lanjut, kehadiran (baca: karakter) Astaire di film ini juga terasa repetitif (bandingkan dengan film-film musikalnya sebelumnya), kurang solid dengan perannya sehingga karakter yang dimainkannya agak terkesan “mengambang”. Kalau memang demikian, lalu apalah fungsi Fred Astaire di film ini? Seperti yang telah saya sebutkan di awal, ini adalah tribut – jadi penampilan Astaire di sini utamanya hanyalah sebagai referensi, tujuannya agar tetap memberikan impact yang terasa “menempel” pada gravitasi dunia sinema musikalis Hollywood yang tengah berusaha merevitalisasi masa jayanya itu dengan sentuhan yang lebih modern. Dia mungkin memerani seorang fotografer fesyen, tapi yang terliat tetaplah sosok dan aura seorang Fred Astaire: bintang film dansa. Sementara Hepburn? Meskipun sontak melesat menjadi sorotan utama media hiburan kala itu, Hepburn barulah “anak kemarin sore” di dunia film apalagi dalam genre musikal: kemampuan beroperetnya masih terlalu mentah. Tak heran dalam mayoritas nomor kolaborasi yang disajikan – kecuali “He Loves, She Loves” yang berlokasi di halaman belakang sebuah gereja kecil di pinggir danau itu – karakternya tak berhasil melebur dengan karakter Astaire. Bahkan terlihat demikian buruk jika kita membandingkan dengan lawan duet Astaire on-screen lainnya – mari singkirkan Ginger Rogers supaya lebih fair: jajaran leading females yang tergolong Astairean novices – misalnya ketika Astaire berpasangan dengan Rita Hayworth dalam gabungan tari-modern bernuansa rancak Flamenco di You’ll Never Get Rich (1941) disusul You Were Never Lovelier (1942) yang mengundang decak kagum. Mungkin hal ini wajar saja karena toh Hayworth yang bernama asli Margarita Cansino itu memanglah seorang penari, besar oleh sepasang orangtua penari sebelum terjun menjadi aktris film, tapi bagaimana dengan Judy Garland yang sukses mendampingi Astaire dalam Easter Parade (1948)? Lalu Leslie Caron yang dua taun sebelumnya tampil lebih baik bersama Astaire dalam Daddy Long Legs (1955)? Saat itu, Hepburn agaknya aware dengan reputasi partner-partner dansa Astaire lain yang sebelumnya bermain cukup cemerlang sehingga merasa gugup dan cemas ketika dituntut beradu performa kesinambungan olah tubuh dengan Astaire dalam drama tari sejenis tapi sayangnya di atas konteks kegagalan pembangunan character conviction dimana yang nampak malahan peran-peran karikatural, diperparah oleh dialog yang terkadang silly dan cheesy, persepsi internal yang tertangkap justru adalah directorial battle yang terkesan mempertemukan kecocokan antara si senior dan kematangannya dengan si junior dan kebintangannya lewat romantic relationship yang kelewat “maksa”. Beruntung sekali, ada Kay Thompson bintang serba-bisa yang dengan perannya sebagai editor-in-chief sebuah majalah fesyen glamor yang hobi nyerocos memakai lingo pizzazz-nya itu sukses menjembatani kekikukan yang timbul akibat konflik generation gap antara Astaire dan egonya versus Hepburn dan kenaifannya.
Thompson yang bervokal kuat itu terbukti dengan sangat baik sekali mampu berasimilasi – entah itu dengan Astaire atau dengan Hepburn maupun keduanya. Soal suara, Thompson yang juga guru vokal penyanyi legendaris Frank Sinatra itu bisa dikatakan tour-de-force dari keseluruhan nomor Funny Face. Lewat  nomor solo “Think Pink” di awal film,  kita langsung tau bahwa Thompson adalah bintang pertunjukan yang sesungguhnya. Kolaborasi trio Astaire-Thompson-Hepburn “Bonjour, Paris!” terbilang oke, tapi kekuatan motherhood Thompson yang mengayomi terhadap Hepburn amat berkesan dan terdengar apik sekali di nomor “On How to Be Lovely”. Namun, nomor duet “Clap Yo’ Hands” bareng Astaire-lah menjadi yang terbaik di antara yang terbaik: menampilkan kreativitas idiomatik berpantun-ria dengan emosi lepas yang membahana – benar-benar fun. Penampilan Thompson menjadi artistic bravura yang berhasil membakar dan menghidupkan soul film ini.
Bagaimanapun, merangkum secara keseluruhan, keunggulan utama Funny Face terletak pada tiga hal: seting, kostum, dan Audrey Hepburn.
Seting: Paris (tak perlu disebut lagilah atribut-atribut mewah yang disandang kota tersebut).
Kostum: Kolaborasi dengan Givenchy dalam Roman Holiday dan Sabrina (1954) telah menjadikan Hepburn ikon fashion dunia, maka kostum-kostum maha indah yang dikenakannya dalam film ini telah menjadi semacam adibusana di eranya – terutama wedding dress model swan-lake ballerina dengan tumpukan tulle warna putih bersih yang setelahnya banyak dicontek rumah-rumah bridal itu.
Audrey Hepburn: Audrey Hepburn, oh, Audrey Hepburn. Perempuan manis berpinggang super ramping yang disebut-sebut “the most beautiful woman ever lived” itu pesonanya tetap menghantui jutaan penggemar film klasik hingga kini. Meskipun sepanjang karirnya dia bermain film tak lebih dari 20 judul utama, namun itu tak mengurungkan American Film Institute untuk menobatkannya sebagai aktris terbesar ketiga dalam daftar “50 Greatest Movie Stars” sesudah Katharine Hepburn dan Bette Davis.
Membahas soal akting, Hepburn (Audrey) sebetulnya tergolong aktris yang biasa-biasa saja. Jangan bandingkan dia dengan Davis (Bette) aktris watak yang bermain begitu menakutkan dalam What Ever Happened to Baby Jane? (1962) atau Taylor (Elizabeth) yang tadinya identik dengan peran sosisalita cantik bersuara Minnie Mouse centil nan menggoda di usia 33 taun sukses tampil gemuk sebagai tante-tante paruh baya depresif berlidah tajam dalam Who’s Afraid of Virginia Woolf? (1966). Namun demikian, jangan sepelekan Audrey Hepburn. Meskipun bukan kategori prowess actor, tapi dia cukup serius dengan setiap peran yang dipercayakan padanya. Hepburn tercatat sebagai aktris yang dalam tiap filmnya menawarkan sesuatu yang berbeda – bisa dikatakan karakter-karakter yang berseberangan. Dalam Roman Holiday: seorang puteri mahkota yang beranjak dewasa; dalam Sabrina: anak supir yang jatuh cinta pada putra majikannya; dalam The Nun’s Story (1959): biarawati Katolik yang mengalami krisis spiritual; dalam Breakfast at Tiffany’s (1961): gadis metropolis nyentrik yang modis; dalam The Children’s Hour (1961): seorang guru yang dituduh lesbian; dalam Wait Until Dark (1967): perempuan buta yang terlibat dengan sekelompok penjahat berbahaya. Sebuah kronologi evolusi karakter yang cukup impresif, bukan? Kemudian dalam Funny Face, dia terbukti mampu menunjukkan kemampuan akting non-verbal yang cukup baik: koreografi. Gagal membangun chemistry yang meyakinkan dengan Astaire, tak berarti di aspek lain film ini kehilangan power. Bermain di film yang notabene bukan bidangnya, Hepburn ternyata bisa lepas dari bayang-bayang sang master Astaire lewat gerak tari yang mempersonifikasikan egonya, membebaskan jiwanya tanpa musti terliat sangar dan garang: Basal Metabolism – elastis, fleksibel dalam dentuman acid jazz dan bossanova – amat kentara dipengaruhi gerak pantomim Kelly dengan kostum garis-garis dan celana putih khasnya dalam An American in Paris, secara unik dan array lebih menyuarakan keunggulan konsep primer koreo-musikal Funny Face yang mempreteli stereotipikalisasi musikal-musikal berkostum haute couture ala Astaire sebelumnya. Meskipun barangkali bukan film terbaiknya, Funny Face menjadi salah satu film Hepburn favorit saya – ketimbang Charade (1963) dan Paris When It Sizzles (1964).
Ini memang film musikal perdana Hepburn saat kapasitas bernyanyinya masih disangsikan namun agaknya dari segi kepaduan harmoni, ini jauh lebih baik dari drama musikal Hepburn sesudahnya, My Fair Lady (1964) yang tanpa ampun meng-cut inci demi inci pita seluloid yang memuat  suara asli Hepburn dan mendubbing-nya menggunakan vokal orang lain tapi ironisnya (film tersebut) justru memenangkan Oscar untuk Film Terbaik. Dengan suara jenis low-key alto yang tidaklah se-­powerful soprano tapi lewat film ini saya berani beragumentasi bahwa sejujurnya vokal soft milik Hepburn terbilang sweet dan empuk, cukup enaklah didengar (silakan cek nomor solonya “How Long Has This Been Going On?”). Bahkan gara-gara kontroversi ini disambut komparasi media bahwa pemeran Eliza Doolittle versi Broadway, Julie Andrews dapat membawakannya (baca: menyanyi) lebih baik – maka Hepburn kehilangan kans masuk nominasi Oscar sementara Rex Harrison lawan mainnya justru sukses pulang mengantungi piala Oscar ‘Best Actor’ untuk kontribusinya dalam film tersebut.

Meskipun vintage – dirilis lebih dari setengah abad lalu tapi apakah itu berarti film ini sudah tak relevan lagi di masa sekarang? Tunggu dulu.  Faktanya, dalam banyak hal film ini terbukti telah menginspirasi film-film sesudahnya. Sudah pernah nonton The Devil Wears Prada (2006) kan? Walaupun berbeda storyline, film saduran bebas novel berjudul sama karya Lauren Weisberger taun 2003 itu tersebut agaknya ‘sedikit’ terilhami si predesesor, Funny Face, yang mencolok terutama dari segi karakteristik sang tokoh utama: rambut coklat gelap, postur tubuh kurus langsing, paras cantik ditunjang otak pintar yang terjebak dalam dilema antara terbuai gemerlap dunia fesyen versus memperjuangkan kecerdasan mandiri – sementara Anne Hathaway membawakan karakter Andrea “Andy” Sachs adalah gadis muda era post-modernis yang oleh sebab tuntutan pekerjaan ‘terpaksa’ melupakan cita-citanya menjadi jurnalis profesional, maka Audrey Hepburn menjadi Jo Stockton yang masuk industri serba mewah serba indah itu supaya bisa melanglang ke Paris demi memuaskan dahaganya akan pemahaman atas ilmu filosofi – betapa dua premis yang tampaknya (sedikit banyak) cukup serupa, bukan?

Satu hal yang cukup menohok batin saya sebagai penonton adalah rancangan kostum Givenchy yang sungguh-sungguh sebuah persembahan masterpiece. Bayangkan, menonton film garapan Stanley Donen ini serasa mengikuti perjalanan waktu yang memberikan sensasi luar biasa thrilling. Ini sama sekali tidak tampak seperti film dari taun 50an, tapi seperti baru dibuat, let’s say, akhir 80an atau awal 90an – busana-busana cantik dan mewah yang dipakai Hepburn bahkan akan membuat night gown hitam berenda Anne Hathaway dalam The Devil Wears Prada terliat jelek dan tasteless, tenggelam seketika oleh konsep timeless fashion bercita rasa tinggi yang dicitrakan oleh Hepburn dengan keanggunan tiada tara yang lantas secara misterius dan reseptif, membekas selamanya di benak penonton. Selain itu, mulusnya sinematografi Technicolor yang merupakan terobosan revolusioner di eranya menimbulkan persepsi seakan-akan diajak menengok kota Paris yang cantik itu baru kemarin atau lusa. Kesampingkan keberadaan ponsel, Microsoft, Apple, internet dan gadget terkini – semuanya masih terliat sama. Ray June selaku pengarah sinematografi dengan sangat baik menangkap setiap layer detil warna sehingga mampu mengangkat visualisasi film ini tampak colorful dan rich ketika ditampilkan di atas layar lebar – bahkan pada saat pengambilan gambar outdoor dimana cuaca terliat soggy sekalipun. Konsep aplikasi teknologi spektrum yang sama membuat Vertigo (1958) yang dirilis berselang setaun kemudian bukan hanya menjadi sebuah pencapaian magnum opus bagi Hitchcock, tapi juga time-fuse momentum yang secara efektif mengkoneksi emosi kognitif penonton lintas generasi. Sebagai sinema rintisan yang mengawali pengunaan sentuhan color-toning paling canggih masa itu, jika anda menonton lewat kualitas high definition seperti Blu-ray – dengan meminjam atribut classic juga vintage,­ baik Funny Face maupun Vertigo benar-benar tampak seperti film-film yang baru diproduksi taun lalu! Jika teori peluang itu kita terapkan, saya jadi bertanya-tanya: mungkinkah hal yang sama akan terjadi jika film-film noir klasik yang ada “dibubuhi” warna – bahwasanya realitas kehidupan dunia ini memanglah berwarna-warni? Biarkan imajinasi anda bebas berbicara – saya pastikan, refleksi yang anda peroleh adalah gambaran yang akan menimbulkan sensasi merinding – sama seperti yang saya rasakan ketika menonton Vertigo dan Funny Face lalu memproyeksikannya ke masa kini.

Semula mengira the beautiful Hepburn (Audrey) masih berhubungan darah dengan the great Hepburn (Katharine), saya menemukan titik keunggulan kedua aktris hebat yang turut membesarkan masa kejayaan Golden Age Hollywood tersebut. Sebagai pecinta sinema klasik, kita tentu sepakat bahwa beragam karakter yang diperankan oleh keduanya telah membentuk semacam pola – bisa dikatakan proyeksi cetak biru perjalanan karir mereka – dimana melalui proses waktu, supremasi masing-masing teruji dan terlihat. Mungkin benar anggapan umum bahwa karakter-karakter emosionalis yang digambarkan Hepburn Jr. tidaklah setangguh peran-peran watak Hepburn Sr. Namun sejujurnya, ketika mendambakan legitimasi feminis atas emansipasi, kecerdasan, keberanian, dan kemandirian – universe ideal sosok wanita Amerika yang kuat itu sejatinya akan anda temukan dalam Katharine Hepburn. Tiba ketika anda merindukan inspirasi yang menyejukkan, keindahan yang menggugah, dan kekuatan integritas yang menjadi simbol kebaikan dan kemanusiaan, maka tak bisa dipungkiri jawabannya adalah Audrey Hepburn, si wajah nirmala yang melalui legasi abadinya – salah satunya adalah film ini – telah begitu dalam menyentuh dunia dengan harapan, kepedulian, dedikasi, dan cinta.

-          F. Fajaryanto Suhardi

(2 Juni 2012)


Jumat, 13 Januari 2012

SETAN Berwujud Manusia itu Ada

Movie Review

No Country for Old Men (2007)

"Syair Ratapan Sang Sheriff Tua tentang Sebuah Negeri dimana Hukum Tak Lagi Dihormati: Eksploitasi Ketamakan Atas Uang Berpacu di Antara Deru Peluru, Obat Bius, dan Bangkai Manusia"



Diangkat dari novel berjudul sama karangan Cormac McCarthy, No Country for Old Men merupakan gambaran kelam tentang manusia dan perangai jahatnya. Nihilisme rupanya menjadi sajian utama pilihan Coen Bersaudara dalam membangun kisah film yang dibuka dengan prolog yang amat menggugah berikut:

“Aku telah menjadi sheriff di county ini ketika berumur 25 tahun. Sulit dipercaya. Kakekku seorang polisi, demikian pula ayahku. Aku dan dia bahkan menjabat sheriff pada saat yang bersamaan. Dia di Plano dan aku di sini. Kupikir dia cukup bangga dengan hal itu. Aku tau aku bangga.
Dulu kabarnya sheriff tak pernah pakai senjata api. Banyak orang yang tidak percaya, tapi itulah kenyataannya. Jim Scarborough tidak pernah mengantungi pistol. Tapi itu Jim semasa muda. Gaston Boykins pun tak pernah membawanya semasa bertugas di Commanche County.  Aku selalu suka dengan cerita orang jaman dulu. Tak pernah melewatkan kesempatan itu. Kemudian kamu tidak bisa menahan diri untuk tidak membandingkan dirimu dengan mereka. Penasaran bagaimana mereka melakukan tugas mereka. Aku mengirim satu anak ke kamar gas di Huntsville. Aku yang menangkapnya dan jadi saksinya. Dia membunuh seorang gadis 14 tahun. Koran-koran bilang itu kejahatan nafsu tapi dia bilang padaku tidak ada nafsu dalam perbuatannya itu. Dia bilang padaku kalau dia sudah merencanakan untuk membunuh orang selama yang dia ingat. Katanya jika aku mengeluarkannya, dia akan membunuh lagi. Dia bahkan tau dia akan masuk neraka. Dalam lima belas menit, dia akan melihat neraka. Aku tidak tau apa yang membuatnya begitu atau manusia jenis apakah dia itu. Aku benar-benar tidak tau.Kau tau kejahatan sekarang ini menjadi semakin sulit dikendalikan. Bukannya aku takut terhadap hal itu. Aku tau kita mesti rela mempertaruhkan nyawa demi melakukan tugas ini. Tapi aku tidak ingin menempatkan orang-orangku dalam bahaya dan menyuruh mereka mendatangi sesuatu yang aku sendiri tidak tau itu apa. Seorang pria harus bersedia mempertaruhkan jiwanya dalam bahaya. Dia hanya perlu bilang: Baiklah, aku bersedia ambil  bagian di dalamnya.”


Berseting di West Texas tahun 1980, adalah Sheriff Ed Tom Bell (Tommy Lee Jones) menjelang masa pensiun namun justru menghadapi hari-hari terberat dalam karirnya. Di wilayah hukumnya, kita akan disuguhi mayat-mayat penyelundup narkotik dari Meksiko yang mati ditembaki dan mulai membusuk berserakan seperti sampah, warga sipil dieksekusi di pinggir jalan, bahkan polisi dibantai tanpa basa-basi.

Ed Tom Bell bukan jagoan tapi dia bukan pria lemah. Dia hanya seorang polisi tua yang berharap dapat mengatasi penjahat tanpa perlu memakai kekerasan. Dia tahu orang jahat semakin nekat. Beberapa di antaranya tak segan menceburkan diri ke dalam lumpur dosa demi uang, obat bius, atau apapun itu dan baku tembak bebas di jalanan pun jadi tak terelakkan lagi. Kalau sudah begini, penegakan hukum tak lagi bergigi. Polisi jarang bertindak keras dan cenderung tak mau ambil resiko. Tunggu dan tinggal lihat hasilnya, siapa yang berhasil kabur dan siapa yang mati konyol. Tapi ketika Ed Tom Bell melihat bangkai-bangkai mafia kartel obat bius yang mati oleh kebiadabannya sendiri di kaldera gurun Texas yang gersang, peristiwa itu kemudian menghantarnya pada kejahatan keji tak berujung yang membuatnya ngeri.

Benang merah itu bermula dari seorang pemuda bernama Llewellyn Moss (Josh Brolin) yang sedang berburu rusa bertanduk di dataran rendah saat tengah hari yang terik. Bidikannya kena, tapi sayang rusa itu berhasil kabur bersama kawanannya. Saat menelusuri jejak darah si rusa, tiba-tiba dia menemukan seekor anjing hitam yang terluka dan berjalan pincang. Jejak darah anjing itu menghantarnya pada kaldera sunyi dengan truk-truk yang lengang, tubuh-tubuh bersimbah darah yang tergeletak di tanah, anjing mati, satu bak muatan penuh heroin, dan seorang Meksiko sekarat dengan luka tembak parah di perutnya yang meminta air. Agua, cuate. Agua, por dios.

Moss kemudian menyisir daerah sekitar dan menemukan seorang pelarian lain dari peristiwa berdarah itu tergeletak di bawah sebatang pohon rindang. Laki-laki itu mati pula karena kehabisan darah akibat luka tembak di lambungnya. Tapi laki-laki malang itu mati tak sia-sia dengan meninggalkan tas kopor berisi uang dua juta dolar terdiri dari pecahan 100 dolar yang kemudian dibawa pergi oleh Moss.

Dari sini, cerita kemudian berkembang menjadi teror yang bergerak sangat cepat ketika si pemilik uang darah tersebut menyuruh seorang pembunuh bayaran bernama Carson Wells (Woody Harrelson) untuk menemukan orang yang membawa kabur uang itu. Namun sayangnya, dia tak memperhitungkan resiko karena telah terlanjur melepaskan seekor anjing ganas tak bertuan, Anton Chigurh (Javier Bardem), ke jalanan.

Anda perlu waspada, Chigurh bukan pembunuh yang nature kesadisannya dibuat-buat. Saya memuji karakter ini sebagai “individualitas total tanpa setitik nila sensibilitas”. Tanpa kompromi, dia akan melenyapkan siapa saja yang berdiri di jalan yang dilaluinya, mereka yang pernah melihat wajahnya dan bahkan yang sekedar pernah mendengar namanya. Dalam novel, dia disebut sebagai “nabi perusak” bersenjatakan senapan shotgun berdimensi dua belas dengan peredam sebesar kaleng bir yang mampu membuat lubang sedalam tiga inci di dinding. Bayangkan jika muntahan peluru senjata itu menembus tengkorak kepala manusia atau tepat mengenai dada anda.

Sebagai penjahat sosiopatik yang senang bermain-main dengan pikiran korbannya, kadang-kadang dia memberikan pilihan pada mereka untuk dapat tetap mempertahankan nyawa dengan satu lemparan koin. Bagi kita, mungkin hal itu gila dan sangat tidak masuk akal untuk mempertaruhkan nyawa dalam lemparan koin. Tapi bagi Chigurh, hidup anda adalah keberuntungan. Anda tidak pernah memilih untuk dilahirkan di dunia. Anda juga tidak memilih jenis kelamin yang anda miliki. Jadi, jika anda bisa hidup lebih lama lagi, itu sebuah keberuntungan bukan? Namun jika untuk mati sekarang atau nanti, apa itu sebuah pilihan?

Scene favorit saya adalah ketika Carla Jean Moss (Kelly MacDonald) memilih untuk menolak melakukan negosiasi bodoh serupa yang Chigurh tawarkan pada orang-orang di luar sana – lemparan koin.

“Aku tahu kau itu gila begitu aku melihatmu duduk di situ. Aku tau pasti apa yang akan terjadi padaku. Aku tidak akan menebaknya. Koin itu tidak bisa apa-apa. Kau membuatnya seolah-olah koin itu yang menentukan. Padahal sebenarnya kau.”

Joel dan Ethan Coen loyal dengan tema-tema yang mengeksploitasi keserakahan, nafsu, kesadisan, ironi, dan kefanaan hidup manusia. No Country for Old Men segera mengingatkan kita pada karya-karya mengagumkan mereka sebelumnya, Blood Simple (1984) dan Fargo (1995). Coen Bersaudara tidak menampilkan efek dan teknik penyutradaraan yang baru. Tidak ada pernak-pernik atau polesan atau gincu atau pemerah pipi dalam film garapan mereka tapi hasil yang mengejutkan dan menghentak emosi anda adalah tujuan final mereka.

Secara pribadi, saya memilih No Country for Old Men sebagai film terbaik dekade lalu karena film ini mempertanyakan moralitas manusia pada titik nadir terendah. Tanpa bumbu konspirasi yang muluk-muluk, inilah sketsa kasar tentang ambisi-ambisi kosong manusia dan akhir yang berupa ketiadaan harapan. Moss hanyalah sekedar kepingan contoh wajah orang yang tidak beruntung. Barangkali keinginan Moss seperti lazimnya orang-orang kebanyakan: kemewahan. Seumur hidup tak pernah menyentuh uang sebanyak itu dan pastinya tidak ada seorangpun yang bersedia memberikannya dengan cuma-cuma – dengan dua juta dolar di tangan – mimpi Moss cuma ingin memperbaiki hidup bersama istrinya, Carla Jean. Sementara itu, hasrat Ed Tom Bell hanya ingin menolong Moss, si bocah malang veteran perang Vietnam yang miskin, keluar dari kesulitan akibat uang panas itu. Namun, Moss menolak dan Ed Tom Bell gagal melindunginya. Terlebih istri Moss yang tak bersalah, tak lama kemudian ikut menyusul menjadi korban serentetan pembunuhan berdarah itu. Sang sheriff tua kemudian bangun dan tersadar. Lalu duduk dan mulai meratap. Betapa sebuah kenaifan yang harus dibayar mahal.

No Country for Old Men menjadi cermin refleksi bagi kita semua bahwa tidak pernah ada jalan keluar yang manis dari akumulasi ketamakan yang senantiasa dipupuk dan dipelihara oleh anak-anak manusia.


-          F. Fajaryanto Suhardi

(20 Februari 2011)

Faut Bien Jouer avec Quelque Chose = What’s Life without Risk?

Movie Review

La Vie en Rose (La Môme) (2007)

"Sang Diva: Panggung Kehidupan dan Eksistensi Seorang Feminis Sejati"




P
erempuan bagai sebutir apel. Merah. Ranum. Manis nan menggoda dengan lekuk sempurna. Ya. Wanita piawai menampilkan sisi sensualitasnya yang menggiurkan hingga mampu membuat mata siapa saja terpana. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh musisi pria manapun.

“Panggung musik kini dijajah perempuan.”

Barangkali ucapan Bryan Adams 15 tahun silam itu ada benarnya. Musik kini bukan hanya hegemoni kaum laki-laki saja. Setelah era Elvis Prestley, Stevie Wonder, Sting, Elton John, dan Michael Jackson, lihatlah siapa solois yang mampu bertahan menjual album paling banyak di tengah gempuran pembajakan oleh internet dan teknologi abad ini yang semakin canggih. Kecuali Eminem, hampir tak ada satupun nama laki-laki di sana. Mereka yang terus menggenjot popularitasnya dan mampu mencatatkan angka penjualan album fantastis puluhan bahkan hingga ratusan juta keping di antaranya setelah Madonna, Barbra Streisand, Mariah Carey, Celine Dion, Janet Jackson, Whitney Houston, kita akan mendengar nama-nama generasi baru yang telah mendunia digawangi pop princesses Britney Spears dan Lady Gaga juga barisan biduanita R&B kontemporer sebutlah Beyoncé dan Rihanna. Di negeri sendiri, kita sering mendengar nama-nama seperti Krisdayanti, Ruth Sahanaya, Titi DJ, Mulan Jameela, atau Agnes Monica dielu-elukan sebagai “DIVA”. Namun apakah dengan Britney Spears sukses menjual lebih dari 100 juta keping album di seluruh dunia hanya dalam tempo satu dekade, atau Mariah Carey yang bervokal akrobatik itu berhasil mencetak hits no.1 di tangga lagu Billboard lebih banyak dari penyanyi solo manapun, atau Beyoncé dielu-elukan sebagai ratu musik sejagat saat ini, atau si penyanyi-sirkus Lady Gaga berhasil memecahkan rekor dengan menghimpun penggemar hingga lebih dari 40 juta akun hanya di jejaring sosial Facebook saja – lantas membuat mereka layak menyandang gelar “DIVA”? Apakah dia (she: singular person, female) yang begitu populer, molek, seksi, stylish, dan telah sukses menjual album hingga berjuta-juta keping akan serta-merta dilabeli sebagai “DIVA”? Lalu apa definisi “DIVA” menurut anda?

Bagi kita – lazimnya penikmat awam – musik menjadi senandung irama pengusir penat. Tapi bagi seorang manusia yang mengabdikan hidupnya total sebagai pelakon seni (baca: artis bukan selebriti) seperti Édith Piaf, musik adalah nafas hidupnya. Berani bertaruh – di atas konteks sebagai sesama orang Indonesia yang terlalu sering mendengar musik pop mainstream – sebagian besar dari anda tentu asing mendengar nama itu sama halnya saya sebelum menonton film ini – padahal setengah abad jauh sebelum tren biduanita pop kulit putih ber-timbre kuat seperti Celine Dion muncul, Édith Piaf telah lebih dulu menjadi pionir. Isenglah bertanya pada orang Perancis, mereka tak akan segan mengakui Édith Piaf sebagai penyanyi kebanggaan negara mereka. Tak percaya? Coba ketik dan klik nama tersebut pada search engine semisal Google, anda akan menemukan banyak sumber referensi yang menyebutkan Édith Piaf sebagai salah seorang artis Perancis terbesar sepanjang masa (Wikipedia: regarded as France’s greatest popular singer; a cultural symbol.).
Diambil dari judul salah satu simfoni chanson klasik Madame Piaf yang paling mashyur, La Vie en Rose (di negara asalnya dirilis dengan judul La Môme) merupakan film berbahasa Perancis berdurasi 140 menit arahan sutradara Olivier Dahan yang menuturkan perjalanan hidup sang biduanita berdasarkan biografinya. Piaf yang terlahir dengan nama Édith Giovanna Gassion menjalani masa kecil sangat sulit dimana kedua orangtuanya yang miskin berpisah. Édith kecil nyaris mati kelaparan ketika diurus sang ibu yang seorang penyanyi jalanan. Kala berusia lima tahun, kemudian oleh sang ayah, Louis Gassion, dia dititipkan pada ibunya yang menjalankan bisnis rumah bordil. Selama dalam pengasuhan neneknya, dia disayangi dan dirawat oleh para pelacur yang bekerja di situ – terutama oleh Titine (diperani Emanuelle Seigner – istri sutradara Roman Polansky). Tak berapa lama kemudian, dia ditarik lagi oleh ayahnya lalu menjalani hidup berpindah-pindah mengikuti pekerjaan sang ayah yang seorang pemain sirkus. Kehidupan jalanan sesungguhnya yang luar biasa kejam dan keras mulai dia rasakan begitu menginjak usia 10 tahun ketika ayahnya memutuskan meninggalkan sirkus dan mulai bekerja sendiri. Bersama sahabatnya Momone (Sylvie Testud), setiap hari sebelum bisa makan semangkuk sup dan sepotong roti, dia harus mencari uang dulu dengan mengamen di pinggir jalan.

Pada usia 20 tahun, nasibnya mulai berubah ketika bertemu dengan Louis Leplée (dengan santai dilakonkan oleh aktor veteran Perancis berhidung belah, Gerard Depardieu) seorang manajer kafe bernama Gerny’s yang amat terkesan pada suara indahnya. Dia kemudian diorbitkan menjadi bintang pertunjukan namun sayang, Leplée tewas dalam sebuah insiden keributan yang melibatkan orang-orang dari jaringan kriminal prostitusi bawah tanah yang selama ini mencengkeram Édith. Hidup dan karir Édith sempat terpuruk sesaat namun berkat uluran tangan dan gemblengan komposer Raymond Asso dan pianis Marguerite Monnot, karirnya kembali bersinar bahkan semakin cemerlang hingga namanya dikenal di seluruh penjuru Perancis. Berangkat dari penyanyi kabaret di klub kecil kemudian beralih menjadi biduanita di arena teater megah nan mewah, Édith semakin melebarkan sayap dan tetap bernyanyi di tengah kecamuk Perang Dunia II – bahkan sampai ke Negeri Paman Sam. Menurut catatan sejarah, meskipun selama pendudukan Jerman di Perancis karirnya tidak dicekal, Piaf dikenal sebagai artis yang tetap loyal mendukung perjuangan rakyat di negaranya melawan agresi Nazi. Salah satu tembang terkemukanya, “L’Accordeoniste” merupakan gubahan seorang kopral kompatriot bernama Michel Emer.
Ketenaran dan kekayaan mulai menghampiri. Namun, jangan bersukacita dulu karena dalam film ini, kisah hidup Édith Piaf senantiasa haru-biru adanya. Sepanjang hayatnya, ratu balada yang berperangai kasar dan gusar tersebut bergulat dengan kebangkrutan finansial, fisik, mental, dan emosional: luka dan trauma kehilangan buah hati juga kekasih tercinta, narkotika, alkohol, cacat seumur hidup setelah tulang rusuknya patah akibat kecelakaan fatal yang hampir merenggut nyawanya sampai kanker hati.

Selain film-film yang diangkat dari novel  berbobot, sudah jadi rahasia umum kalau Academy Awards menggandrungi genre biopik, salah satunya La Vie en Rose dari sekian banyak yang sukses mencuri perhatian; yang belakangan muncul antara lain Ray! (2004) (biopik penyanyi-pianis soul legendaris Ray Charles), Capote (2005) (biopik penulis buku dan naskah film sensasional Truman Capote), lalu Milk (2008) (biopik Harvey Milk, politikus Amerika pertama yang secara terbuka mengakui dirinya homoseks). Berbicara tentang La Vie en Rose, sebetulnya tidak ada yang terlalu istimewa dari plot ceritanya – secara tipikal menampilkan fase kesedihan-kegembiraan dan jatuh-bangun, kisah yang dibangun cenderung hiper-melankolis sehingga cerita model begini amatlah lumrah dijumpai, walhasil rentan berakhir menjadi sebuah drama banalitas – untungnya, tertolong oleh penerapan alur maju-mundur yang apik dan atmosfer psikologis yang kontras antar sekuens yang berlompatan – kedua elemen tersebut menjadi nilai plus utama film ini. Inilah kelemahan utama film biopik. Karena dibangun dengan berkiblat pada sebuah tuturan biografi, amatlah sulit bagi si sutradara untuk mengkreasi adegan-adegan ‘menantang’ dan kalaupun ada sedikit perubahan demi kepentingan dramatisasi, ‘manuver’ yang muncul harus tetap berpatokan pada pakem-pakem yang ‘sah’ alias tekstual. Hal ini disebabkan karena adanya konteks perbedaan yang jelas antara fakta dan fiksi yang saya sebut sebagai “beban fakta”. Fiksi boleh saja masuk akal tapi itu tidak terjadi, tapi fakta bisa saja aneh bahkan irasional tapi itulah yang terjadi. Dalam novel yang notabene fiksi, si pengarang boleh saja mereka-reka kisah senatural mungkin atau sebaliknya menambahkan adegan sensasional yang mungkin jarang dijumpai (walau bisa saja terjadi) dalam kehidupan nyata. Bagaimanapun sebuah biografi haruslah menyertakan data-data yang faktual dan bisa dibuktikan karena adegan yang dikisahkan di dalamnya riil alias benar-benar terjadi – tidak peduli apakah itu masuk akal atau tidak. Tapi masalahnya jika di dalam sebuah biografi dituliskan seorang manusia setiap pagi bangun lalu mandi lalu sarapan lalu pergi bekerja lalu pulang lalu makan lalu malamnya kembali tidur dan siklus itu terus berulang setiap hari sampai dia mati – dengan kata lain – tidak terdapat sesuatu yang ‘lebih’, lantas bagaimana bisa kita membuat cerita seperti itu menarik? Namun biografi yang bagaikan sup dengan bumbu dramatisasi terselip satu paket di dalamnya lalu dipermanis lagi dengan efek-efek “penyedap tambahan” sebagai penguat citra ketika divisualisasikan ke dalam layar perak, lalu, tidakkah fakta kemudian berubah jadi abu-abu? Menjadi fakta semi fiksi atau fakta fiksional? Hati-hati. Kesan fakta bercampur fiksi yang terliat begitu nyata inilah yang kerap menjebak orang-orang untuk cenderung mempercayainya sebagai fakta sebagaimana adanya.

Sekalipun melibatkan massa serta detil properti dan seting sehingga menimbulkan efek magnitude yang cukup wah, ibarat sebuah bahtera besar yang dibangun dari kayu kategori rapuh, film ini relatif goyah, dengan semata-mata mengandalkan adegan-adegan dramatis yang kental nuansa emosional secara intens. Namun demikian, film ini kemudian sepenuhnya terangkat naik berkat kepiawaian menakjubkan sang nahkoda – yaitu pelakon utama. One (wo)man show. Saya adalah orang awam yang secara sederhana menikmati film sebagai tontonan, kalau boleh memuji, penampilan Marion Cotillard dalam La Vie en Rose merupakan salah satu akting oleh pemeran utama wanita paling berkesan yang pernah saya lihat dalam satu dasawarsa terakhir. Analogi saya: Marion Cotillard adalah Édith Piaf dan Édith Piaf adalah Marion Cotillard. Anda pasti tau apa yang saya maksudkan: penjiwaan dengan tingkat kesulitan tinggi. Tak ada kata lain yang bisa mewakili reaksi terperangah saya menyaksikan totalitas performanya kecuali: LUAR  BIASA. Cotillard secara tak biasa melebur dalam sosok Édith Piaf tak hanya secara psikologis namun juga fisik, mimik, dan vokal dengan sangat sempurna. Sebagai Édith dua puluh tahunan, dia begitu canggung, penuh semangat dan emosional; Édith tiga puluh tahunan, Cotillard tumbuh menjadi wanita anggun yang dilanda cinta; Édith empat puluh tahunan, tubuhnya yang cacat, bungkuk, dan menyusut berjalan tertatih-tatih dan kepayahan. Terlepas dari efek make-up, anda pasti pangling menyaksikan penampilannya di sini bila membandingkannya dengan Mal yang repulsif dan sensual dalam Inception (2010) bersama Leonardo di Caprio atau sebagai Luisa Contini yang jelita mempesona dalam drama musikal Nine (2009) bersama serombongan aktor dan aktris kelas Oscar seperti Daniel Day-Lewis, Nicole Kidman, Penelope Cruz, Judi Dench, dan Sophia Loren. Anda akan terkejut melihat Cotillard dapat berubah bak bunglon – dari titisan dewi Venus yang aduhai kemudian menjelma menjadi seorang penyanyi perempuan paling tidak menarik secara seksual yang pernah anda lihat. Melalui film ini, anda akan segera lupa bahwa seorang diva sejati adalah secantik dan seseksi Britney Spears atau Beyoncé yang glamor atau bergaya funky dan cool seperti Katy Perry atau yang mengutamakan penampilan fisik ketimbang kualitas hingga rela berkali-kali naik ke meja operasi demi secercah kecantikan hasil rombakan bedah plastik perihalnya Krisdayanti. Cotillard membawa anda memasuki dunia Édith Piaf dan memahami bahwa ternyata eksistensi abadi seorang penyanyi besar yang dihormati tidak berkorelasi linier dengan kemolekan tubuh atau tingkat kepopuleran atau seberapa trendi anda berpakaian atau kuantitas penjualan album gila-gilaan yang senantiasa diagung-agungkan oleh kapitalisme industri musik komersil yang rakus. Édith Piaf menjadi DIVA karena menyanyi adalah pilihan hidupnya.

Reporter              : Et si vous ne pouviez plus chanter? (If you were unable to sing anymore?)
Édith Piaf             : Je ne vivrais pas. (Then I could no longer live.)

Perempuan berjuluk “the little sparrow” yang namanya menjadi referensi tajuk lagu “Edith and the Kingpin” terakhir muncul di album pemenang Grammy milik pianis jazz veteran Herbie Hancock, River: The Joni Letters (2007) ini membangun hidup dan kepercayaan dirinya dari panggung ke panggung untuk sebuah manifestasi tujuan yang melebihi sekedar uang atau ketenaran. Sang diva memaknai hidupnya yang penuh kesengsaraan dengan tepat dan indah. Ibarat kapal yang karam tinggal menunggu waktu, Édith mengenang kembali seluruh hidupnya dalam segenggam kenangan masa lalu yang getir dan meremukkan batin. Dan apakah seorang Édith Piaf sebagai perempuan seutuhnya menyesali itu semua? Dengan lantang dia menjawab, “Non je ne regrette rien.” (No, I regret nothing at all.)


-          F. Fajaryanto Suhardi



Sebuah persembahan untuk Amy Winehouse (14 September 1983 – 23 Juli 2011)
“Votre voix est comme l’âme de mon cœur. Je t’aime, Amy.”

(2 September 2011)